Di bawah ini beberapa tulisanku yang sudah dimuat dalam rubrik Kompasiana-nya Kompas.com dan Harian Umum Pagaralam Post. Silahkan klik langsung Untuk mengunjungi situs yang di maksud. Salam Edukasioner!
Artikel Terbaru
Ada Apa dengan Malaysia?
Saya pernah menulis dalam sebuah blog ;
Malaysia memang kecil, tetapi dikelola dengan kemauan yang besar
Indonesia memang besar, tetapi dikelola dengan kemauan yang kerdil
Kenapa
Malaysia-Indonesia yang menjadi fokus penulisan saya waktu itu? Jujur,
karena ada ketersinggungan sejarah dengan lepasnya pulau sipadan-ligitan
dahulu, belum lagi klaim sepihak Malaysia menyangkut kepemilikan blok
Ambalat. Ditambah juga Malaysia sering mengklaim warisan budaya kita
seperti batik, rendang, lagu dan lain-lain. Sayangngya Malaysia sampai
sekarang tidak mau mengklaim teroris yang beraksi dinegeri ini juga
milik mereka, seperti dr. Azhari dan Noordin M. Top, yang notabene
produk asli negeri jiran tersebut.
Terlepas dari semua itu, bicara tentang Malaysia memang asyik, unik dan menarik. Asyik, karena negara yang luasnya tak lebih luas dari pulau Kalimantan ini mengalami kemajuan pesat di berbagai bidang. Terutama dalam bidang ekonomi dan pendidikan. Dalam bidang ekonomi, diluar Singapura, Malaysia boleh
bangga menepuk dadanya sebagai tuan bagi tanah Melayu. Hal itu cukup
beralasan karena hampir sebagian besar tenaga kerja di Malaysia memang
berasal dari tanah Melayu, lebih-lebih dari Indonesia. Padahal, katanya,
sumber daya alam Indonesia melimpah luar biasa. Sayangnya sumber daya
alam tersebut lebih banyak jatuh ke tangan asing. Kalaupun ada yang
dikelola oleh anak bangsa sendiri, hasil perhitungannya selalu merugi. Sepertinya, Kata-kata ‘untung’ sudah hilang dalam peredaran kamus tata kelola perekonomian kita.
Rivalitas Lama
Persaingan antar dua negeri serumpun ini memang sudah berlangsung lama. Terhitung sejak Malaysia sukses mengelola harga dirinya sebagai sebuah bangsa. Diawal kemerdekaannya, Pemerintah Malaysia banyak menimbah ilmu pada kita. Tak terhitung orang terpelajar di negeri ini yang berangkat ke negeri jiran untuk membangun pendidikan di sana. Akan tetapi sekarang semuanya serba jungkir balik, kata
orang, hampir di semua sektor kita banyak tertinggal dari Malaysia.
Semua orang bertanya-tanya, dimana sesungguhnya kelemahan kita sebagai
suatu bangsa?
Survei UNDP
Dari
survei yang dilakukan oleh United Nations Development Program (UNDP)
tahun 2011, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia ternyata memang
hanya mampu bertengger di posisi 124 dari 187 negara dengan skor 0,617.
Di ASEAN kita hanya unggul sedikit dari Vietnam yang memiliki nilai IPM
0,593, Laos (IPM 0,524), Kamboja (IPM 0,523) dan Myanmar dengan IPM
0,483. Sementara peringkat IPM tertinggi diperoleh Singapura dengan
nilai 0,866. Kemudian disusul Brunei Darussalam ( IPM 0,838), lalu
Malaysia (IPM 0,761), Thailand (IPM 0,682,) dan Filipina (IPM 0,644).
Dari
survey UNDP tersebut, dapat dikatakan kita memang agak tertinggal jauh
dengan malaysia terutama dari taraf pendidikan, kesehatan, serta
kemampuan daya beli masyarakat, sebagai tolok ukur penentuan peringkat
IPM yang disyaratkan UNDP.
Hasil
survei diatas tak perlu membuat kita berkecil hati. Biarkan saja aspek
Pendidikan kita dianggap lemah, asalkan bisa menghasilkan ilmuwan yang
mumpuni dibidangnya masing-masing. Biarlah pelayanan dan peralatan
kesehatan kita dianggap ketinggalan zaman, tidak seperti malaysia yang
serba canggih, asalkan pelayanannya dapat menyentuh semua lapisan
masyarakat dengan harga terjangkau. Biarlah kemampuan daya beli kita
dipandang rendah, asalkan tak ada lagi masyarakat yang terdeteksi
mengalami busung lapar atau makan gadung.
Saatnya Berbenah
Terlepas dari jurus ‘biar dan asalkan diatas’,
kesadaran dari komponen bangsa kita memang perlu digelorakan kembali.
Terutama dari segi pengelolaan Sumber Daya Alam dan upaya peningkatan
kualitas dunia pendidikan yang masih dianggap kurang maksimal. Alokasi
anggaran pendidikan kita memang sudah mencapai 20% dari APBN. sayang
peruntukannya mayoritas habis untuk penyelenggaraan kegiatan. Bukan
untuk menghasilkan pendidikan berkualitas. Mungkin dititik ini yang
perlu dibenahi oleh para pemangku kebijakan. sebab, kunci kemajuan suatu
bangsa justeru terletak dari kepiawaiannya dalam mengelola pendidikan.
Yang lain hanyalah dampak dari keberhasilan tersebut.
beranjak
dari sini, mulai sekarang mulut Kita tak perlu berbusa-busa mengutuk
Malaysia, hanya karena ekonomi dan pendidikan mereka lebih maju dari
kita. Pun tak perlu menyatakan perang sebagimana yang diinginkan oleh
beberapa kalangan, yang hanya mendahulukan nasionalisme di kotak sempit.
Kita
juga jangan terlambat menyadari kalau Kita adalah bangsa yang besar,
sumber daya alam dan manusia berlimpah ruah. Mutiara-mutiara terpendam
masih berserakan di negeri ini. Tinggal kemauan kita saja untuk
mengumpulkan mutiara-mutiara yang berserakan tersebut, mengelolahnya
dengan tranparansi yang benar dan bertanggungjawab, setelah itu melemparkannya di pasar bebas. Dunia akan menilai mutiara mana yang lebih berkualitas.
Salam Edukasi.
Pro Kontra Perubahan Kurikulum Nasional
Kalau tidak ada aral melintang, Insya
Allah mulai tahun ajaran 2013 mendatang, dunia pendidikan kita disuguhi
lagi perubahan kurikulum nasional di semua tingkatan. Dalam lintas
sejarah pendidikan nasional, perubahan kurikulum ini untuk ke-10 kalinya
sejak kurikulum pertama diterapkan tahun 1947.
Kebijakan Pemerintah
Menyangkut perubahan kurikulum yang digagas pemerintah tersebut, Dilihat dari substansinya, perubahan kali ini lebih Banyak ditekankan pada pengurangan (baca : Pemadatan) sejumlah mata pelajaran tertentu yang dianggap terlalu berat bagi anak. Atau mungkin juga solusi murah meriah dari pemerintah ditengah maraknya tawuran antar pelajar dan mahasiswa yang akhir-akhir ini seringkali memakan korban. Di mata Pemerintah, kurikulum yang berlaku sekarang, mungkin, dianggap gagal menanamkan sikap kebangsaan dan kesantunan pada peserta didik sehingga harus diubah dengan penekanan pada olah sikap dan olah kepribadian. Tak heran bila kemudian Pramuka dijadikan ekstrakurikuler wajib di sekolah (Kompas.com, Selasa, 13/11/2012)
Pendapat pemerintah lainnya yang menyatakan kurikulum sekarang sudah tidak bisa lagi mengikuti perkembangan zaman (ANTARA News, Kamis, 29 November 2012), porsinya sangat kecil dan terkesan agak ekstrim. Kenyataannnya, Justeru dengan kurikulum yang dianggap tidak relevan itulah siswa-siswa kita langganan juara diberbagai olimpiade pendidikan tingkat internasional. Belum lagi karya-karya inovatif anak bangsa seperti membuat robot, alat pendeteksi dini banjir, atau mobil tenaga surya, Misalnya, semuanya justeru produk dari kurikulum yang dianggap tidak relevan tersebut.
Banjir Cibiran
Tak heran jika kemudian rencana pemerintah untuk merombak kurikulum menuai cibiran dari berbagai pihak. Cibiran pertama, menganggap pemerintah sudah habis kerjaan, lebih suka mengotak-atik kurikulum dengan anggaran “Wah” daripada memikirkan kesejahteraan guru, terutama guru honorer yang gajinya masih banyak di bawah UMP/UMK dan malah kalah jauh dengan upah buruh di Jakarta atau Tangerang yang sudah diatas angka satu juta per bulannya.
Cibiran kedua yang agak bernuansa politis mengatakan pemerintah berusaha mengumpulkan modal untuk biaya pemilu 2014 dengan menciptakan program berbiaya tingkat tinggi sehingga anggarannya bisa disulap, sebagaimana terjadi pada kasus bank Century dan Hambalang. Cibiran terakhir ini tentu kurang kuat dan cenderung meluncur dari mulut orang yang kurang sehat sehingga tidak layak masuk ke otak kita, apalagi masuk ujian nasional!
Cibiran ketiga, menurut saya ini yang lebih menarik, mungkin nantinya datang dari dukun dan paranormal kelas teri. Kedua profesi ini menganggap pemerintah sudah mulai berani menggerogoti penghasilan tambahan mereka. Dengan berkurangnya beban belajar disekolah, otomatis akan berkurang juga jumlah siswa yang kesurupan menjelang ujian. Artinya berkurang juga panggilan dari sekolah-sekolah untuk memanfaatkan jasa mereka mengusir jin, hantu, dedemit dan roh halus lainnya!
Sebaliknya bagi dukun dan paranormal kelas kakap tentu saja menyambut baik rencana pemerintah tersebut. Bagi mereka, tingkat stress dan kesurupan tak hanya hanya di ukur dari banyaknya mata pelajaran, tapi juga waktu yang digunakan. Bukankah pemerintah berencana mengurangi jumlah mata pelajaran tapi menambah waktu belajar siswa selama 4 jam per minggu? Berada di sekolah 5 jam sehari saja banyak yang kesurupan apalagi ditambah menjadi 6 jam sehari!
Hilangnya Kearifan Lokal
Perubahan adalah keniscayaan. Termasuk kurikulum. Tak ada yang menolak perubahan selama mengarah pada kebaikan. Tetapi bila perubahan tersebut membuat hilang unsur-unsur baik yang sudah ada sebelumnya, maka perubahan tersebut patut dipertimbangkan. Salah satu contoh unsur-unsur baik yang akan hilang dengan berlakunya kurikulum baru adalah kearifan lokal. Jika dalam kurikulum sebelumnya sekolah mengembangkan kurikulum berdasarkan kondisi sekolah, sosial budaya masyarakat setempat dan potensi daerah masing-masing, maka di kurikulum yang baru sepertinya akan dipangkas. Sekolah tidak lagi menyusun kurikulum dengan konsisi dan potensi masing-masing. Semuanya sudah ditentukan oleh pusat. Sekolah sekedar robot dan hanya menjalankan tugas berdasarkan kontrol “tuannya”. Artinya, nilai-nilai otonomi sekolah, guru, dan daerah pada kurikulum sebelumnya (KTSP 2006) akan “dihilangkan” (Kompas.com, Senin, 17/12/2012)
Luruskan Niat
Berubah atau tidaknya kurikulum memang ditentukan oleh kebijakan penguasa.Arah kebijakan umumnya dilandasi oleh niat. Dititik inilah kebijakan yang dialirkan akan mencapai tujuannya. Apakah ia akan berakhir di kubangan lumpur, atau bermuara di Samudera kebajikan? Berpulang dari motif si pengambil kebijakan. Jika niatnya baik, mudah-mudahan uang negara yang keluar tidak sia-sia dan kurikulum yang akan diterapkan benar-benar mampu menciptakan insan-insan yang berkualitas dan ber-kredibelitas. Jika “bengkok”, maka uang negara akan mengalir di daerah “bengkok” tersebut. Isi Kurikulum pun akan kehilangan vitamin dan gizi, dan sepertinya sulit menempel di otak guru. Apalagi di otak anak. Kalau sudah begitu, mimpi indah tentang kurikulum baru takutnya hanya akan memperpanjang daftar “orang-orang pendosa” di negeri ini, karena tersandung korupsi pengadaan buku, misalnya. Lebih gawat lagi akan mencatatkan nama Indonesia di Guinnes Book of Record sebagai negara yang paling sering mengganti kurikulum sekaligus negara yang paling sering gagal menjalankan kurikulum!
Salam Edukasi!
Kebijakan Pemerintah
Menyangkut perubahan kurikulum yang digagas pemerintah tersebut, Dilihat dari substansinya, perubahan kali ini lebih Banyak ditekankan pada pengurangan (baca : Pemadatan) sejumlah mata pelajaran tertentu yang dianggap terlalu berat bagi anak. Atau mungkin juga solusi murah meriah dari pemerintah ditengah maraknya tawuran antar pelajar dan mahasiswa yang akhir-akhir ini seringkali memakan korban. Di mata Pemerintah, kurikulum yang berlaku sekarang, mungkin, dianggap gagal menanamkan sikap kebangsaan dan kesantunan pada peserta didik sehingga harus diubah dengan penekanan pada olah sikap dan olah kepribadian. Tak heran bila kemudian Pramuka dijadikan ekstrakurikuler wajib di sekolah (Kompas.com, Selasa, 13/11/2012)
Pendapat pemerintah lainnya yang menyatakan kurikulum sekarang sudah tidak bisa lagi mengikuti perkembangan zaman (ANTARA News, Kamis, 29 November 2012), porsinya sangat kecil dan terkesan agak ekstrim. Kenyataannnya, Justeru dengan kurikulum yang dianggap tidak relevan itulah siswa-siswa kita langganan juara diberbagai olimpiade pendidikan tingkat internasional. Belum lagi karya-karya inovatif anak bangsa seperti membuat robot, alat pendeteksi dini banjir, atau mobil tenaga surya, Misalnya, semuanya justeru produk dari kurikulum yang dianggap tidak relevan tersebut.
Banjir Cibiran
Tak heran jika kemudian rencana pemerintah untuk merombak kurikulum menuai cibiran dari berbagai pihak. Cibiran pertama, menganggap pemerintah sudah habis kerjaan, lebih suka mengotak-atik kurikulum dengan anggaran “Wah” daripada memikirkan kesejahteraan guru, terutama guru honorer yang gajinya masih banyak di bawah UMP/UMK dan malah kalah jauh dengan upah buruh di Jakarta atau Tangerang yang sudah diatas angka satu juta per bulannya.
Cibiran kedua yang agak bernuansa politis mengatakan pemerintah berusaha mengumpulkan modal untuk biaya pemilu 2014 dengan menciptakan program berbiaya tingkat tinggi sehingga anggarannya bisa disulap, sebagaimana terjadi pada kasus bank Century dan Hambalang. Cibiran terakhir ini tentu kurang kuat dan cenderung meluncur dari mulut orang yang kurang sehat sehingga tidak layak masuk ke otak kita, apalagi masuk ujian nasional!
Cibiran ketiga, menurut saya ini yang lebih menarik, mungkin nantinya datang dari dukun dan paranormal kelas teri. Kedua profesi ini menganggap pemerintah sudah mulai berani menggerogoti penghasilan tambahan mereka. Dengan berkurangnya beban belajar disekolah, otomatis akan berkurang juga jumlah siswa yang kesurupan menjelang ujian. Artinya berkurang juga panggilan dari sekolah-sekolah untuk memanfaatkan jasa mereka mengusir jin, hantu, dedemit dan roh halus lainnya!
Sebaliknya bagi dukun dan paranormal kelas kakap tentu saja menyambut baik rencana pemerintah tersebut. Bagi mereka, tingkat stress dan kesurupan tak hanya hanya di ukur dari banyaknya mata pelajaran, tapi juga waktu yang digunakan. Bukankah pemerintah berencana mengurangi jumlah mata pelajaran tapi menambah waktu belajar siswa selama 4 jam per minggu? Berada di sekolah 5 jam sehari saja banyak yang kesurupan apalagi ditambah menjadi 6 jam sehari!
Hilangnya Kearifan Lokal
Perubahan adalah keniscayaan. Termasuk kurikulum. Tak ada yang menolak perubahan selama mengarah pada kebaikan. Tetapi bila perubahan tersebut membuat hilang unsur-unsur baik yang sudah ada sebelumnya, maka perubahan tersebut patut dipertimbangkan. Salah satu contoh unsur-unsur baik yang akan hilang dengan berlakunya kurikulum baru adalah kearifan lokal. Jika dalam kurikulum sebelumnya sekolah mengembangkan kurikulum berdasarkan kondisi sekolah, sosial budaya masyarakat setempat dan potensi daerah masing-masing, maka di kurikulum yang baru sepertinya akan dipangkas. Sekolah tidak lagi menyusun kurikulum dengan konsisi dan potensi masing-masing. Semuanya sudah ditentukan oleh pusat. Sekolah sekedar robot dan hanya menjalankan tugas berdasarkan kontrol “tuannya”. Artinya, nilai-nilai otonomi sekolah, guru, dan daerah pada kurikulum sebelumnya (KTSP 2006) akan “dihilangkan” (Kompas.com, Senin, 17/12/2012)
Luruskan Niat
Berubah atau tidaknya kurikulum memang ditentukan oleh kebijakan penguasa.Arah kebijakan umumnya dilandasi oleh niat. Dititik inilah kebijakan yang dialirkan akan mencapai tujuannya. Apakah ia akan berakhir di kubangan lumpur, atau bermuara di Samudera kebajikan? Berpulang dari motif si pengambil kebijakan. Jika niatnya baik, mudah-mudahan uang negara yang keluar tidak sia-sia dan kurikulum yang akan diterapkan benar-benar mampu menciptakan insan-insan yang berkualitas dan ber-kredibelitas. Jika “bengkok”, maka uang negara akan mengalir di daerah “bengkok” tersebut. Isi Kurikulum pun akan kehilangan vitamin dan gizi, dan sepertinya sulit menempel di otak guru. Apalagi di otak anak. Kalau sudah begitu, mimpi indah tentang kurikulum baru takutnya hanya akan memperpanjang daftar “orang-orang pendosa” di negeri ini, karena tersandung korupsi pengadaan buku, misalnya. Lebih gawat lagi akan mencatatkan nama Indonesia di Guinnes Book of Record sebagai negara yang paling sering mengganti kurikulum sekaligus negara yang paling sering gagal menjalankan kurikulum!
Salam Edukasi!
Belajar Mengajar Dengan Nge-Blog
Oleh : Jon Erwin SKB
Mereka yang berselancar melalui internet umumnya sudah
mengenal apa itu blog dan website berikut
fungsinya. Naman tak banyak yang tahu fungsi dan perbedaannya. Secara umum fungsi
blog atau website itu sama. Perbedaannya Cuma terletak dari proses
pembuatannya. Membuat website lebih rumit dari blog, karena seseorang
setidaknya harus menguasai bahasa pemogramam seperti HTML, PHP, Java Script,
XML, dll. Dan juga harus menggunakan FTP (File Transfer Protocol) untuk
memasukan file-file ke dalam website tersebut.
Lain halnya dengan blog. Membuat blog
cukup mudah. Yang sulit itu merangsang kreatifitas pemilik blog untuk menghiasi
tampilan blognya. Apalagi bila pemilik blog sama sekali tidak mengenal bahasa
HTML. Dapat dipastika blog yang di buat nantinya terlihat hambar dan jarang di
akses pengunjung. Padahal bahasa
pemprograman inilah yang akan membuat blog/website
seseorang menjadi cantik dan manis.
Guru Nge-blog
Guru nge-blog bukan suatu kewajiban. Tetapi
bila tak punya blog dan malas untuk nge-blog berarti perlu dipertanyakan, kalau
tidak mau disebut keterlaluan. Kenapa? sebab, dari segi penggunaan, Dari blog-lah umumnya seorang guru
mengambil dan mengumpulkan berbagai jenis perangkat pembelajaran terbaru mulai
dari silabus, prota, prosem dan perangkat administrasi lainnya. Dari nge-blog
kita dapat mengunduh semua hal khususnya yang berbau pendidikan. Selain itu,
blog dapat dimanfaatkan sesama komunitas guru untuk berbagi ilmu, pendapat dan
gagasan. Apalagi kepemilikan website atau blog saat ini merupakan salah satu unsur
yang diminta kemendikbud dalam mengisi data
pokok sekolah. Bila dalam suatu
komunitas sekolah tidak ada guru yang suka atau tahu dengan yang namanya blog, apapun
nama labelnya, dapat dipastikan ada yang “kurang” pada sekolah tersebut. Yang pasti data
sekolahnya kurang lengkap. Hehehe...
Pola Pikir Manual
Sayangnya, poloa pikir komunitas guru kebanyakan masih
bersifat manual. Mereka terkesan menganggap remeh multi manfaat dari sebuah
blog. Akibatnya guru terkesan gaptek. Padahal, Dengan memiliki blog, seorang guru
akan terlibat aktif berinteraksi di dunia maya secara bebas dan
bertanggungjawab. Guru bisa menuangkan gagasan inteleknya, memacu kreatifitas
dan inovasi diri. Guru juga bisa melatih
kemampuan dasar menulis dan dapat mengakses
informasi pendidikan terkini. Lambat
laun, dengan menuangkan gagasan dan membandingkannya dengan gagasan orang lain,
guru akan menyadari bahwa ilmu mereka
belum seberapa dibanding perkembangan ilmu pengetahuan yang melaju pesat
akhir-akhir ini.
Intinya, blog atau website dapat
dimanfaatkan bagi guru untuk belajar
mengajar. Jangan pernah beranggapan mampu mengajar hanya karena sudah menjadi guru
selama puluhan tahun. Jangan juga
berpikir mentang-mentang masa pengabdian atau usia sudah mendekati Maghrib
alias hampir memasuki masa pensiun “di dunia dan akhirat”, seorang guru malas
mengoperasikan komputer atau laptop, sebagai syarat pertama untuk nge-blog yang
saya tulis di sini. Kita selalu memotivasi siswa untuk maju, tapi kita juga
cenderung mengabaikan kemajuan itu sendiri. Hal seperti ini tak jauh beda
dengan orang tersesat yang meminta bantuan orang buta sebagai penunjuk arah!
Membangkitkan kesadaran ilmiah
Di zaman yang serba IT Sekarang, Guru
mestinya menyadari, Pola pikir siswa saat
ini berubah. Mereka cenderung menaruh hormat pada guru yang supel, kreatif, inovatif
dan canggih. Guru yang masih berpola
pikir manual lambat laun akan tertinggal oleh zaman. Para siswa yang masih
“bertenaga” tentu lebih menyukai guru yang tergolong “Canggih” Dimata mereka, mungkin,
guru seperti inilah yang patut ditiru, yang mampu membangkitkan kesadaran
berpikir. Lalu apa hubungannya dengan blog? Blog adalah wadah bagi guru untuk
menuangkan gagasan melalui tulisan. Kemampuan seseorang justeru bisa dilihat
dari isi tulisannya. Sayangnya, hampir kebanyakan kita menulis hanya menjelang
wisuda S1 atau S2 saja. Itupun materinya copypaste dari website atau blog
tertentu. Lagi-lagi kita hanya mengambil, bukan memberi.
Dengan rajin
nge-blog, menulis opini atau artikel di media massa, mudah-mudahan pola pikir
kita berubah.
Salam
Edukasi!
BLOGGERPEDIA : Baca Kumpulan Tulisanku Di Kompasiana
Kategori Headlines
- Alamak, Gajah Putih Bungkam Garuda Muda
- Semarak Pembukaan Sea Games 2013 di Myanmar
- Dampak Penghapusan B. Inggris, Penjaskes, dan TIK di SD
- Pahlawan Senja Dan Tukang Parkir
- Bukti Hacker Indonesia Ditakuti Dunia
- Bahasa Indonesia Di Persimpangan Jalan
- Orang Tua Merasa Pintar, Salah Sedikit Guru 'Dipolisikan'
- Putri Laron dan Pangeran Cahaya
Trending Articles
- Petugas Telanjangi Wanita, Pemerintah AS Minta Maaf
- Diuntungkan Aturan, Timnas U-23 Akhirnya Lolos
- Di AS, Salah Sedikit Saja Siswa diSkors
- Ahok Meralat, Anak punya Potensi Bandel
- Internet, Guru Terhebat Terkadang Laknat
- 1 Miliar Per Desa Negara diambang Bangkrut
- Australia, Korbankan Kemanusiaan Demi Kebijakan
- Menulislah Untuk Indonesia
- indonesia Menang, Pengamat Negatif terjengkang
- Penyakit Kronis Sepak Bola Kita
- Pilpres Tanpa Jokowi Nggak asyik Banget
- Timnas U-19 Ada Dukun, Makanya Menang
Aktual
Inspiratif
- Ini Sulit tapi mungkin, bukan mungkin tapi sulit
- Puisi : Republik Daun Mimpi
- Kompasianers Ini Bisa Ciptakan Lagu
- Pengendara Tabrak Kambing, Pemilik ditahan
- Mengenal 5 Sumpah Khas Indonesia
- Malala Yousafzai, Melawan Taliban Dengan Pena
- Perbedaan Pendapat Yang Tak Wajar
- Mbah Karyo Lebih Hebat Dari Jokowi
Bermanfaat
Menarik
Highligt Atau Bacaan Terpilih
- Pengen dianggap Modern, BAB dilarang Jongkok
- Menulislah Untuk Indonesia
- Indonesiaku Merdeka Dari Narkoba
- Tips Nyaman dan Aman Dalam Perjalanan
- Guru Nggak Nyeni, Mending Pensiun Dini
- Pasca FFA, Merajut Kembali Budaya Mendongeng
- Pasien Kelapa Sawit dan Dokter Haji Amran
- Jokowi Naik Daun, Yang Lain Naik Ambulan
- Sibuk Tebar Pesona, Anggota DPRD Malas Ngantor