Blog Belajar Mengajar: opini Blog Belajar Mengajar
Headlines News :

Artikel Terbaru

Baca Tulisanku Di KOMPASIANA


Di bawah ini beberapa tulisanku yang sudah dimuat dalam rubrik  Kompasiana-nya Kompas.com dan Harian Umum Pagaralam Post. Silahkan klik langsung Untuk mengunjungi situs yang di maksud. Salam Edukasioner!

  1. Ada Apa Dengan Malaysia?
  2. Lagi,  Pro Kontra Perubahan Kurikulum Nasional
  3. Nilai Itu Bernama Kejujuran

Ada Apa dengan Malaysia?


Saya pernah menulis dalam sebuah blog ;
Malaysia memang kecil, tetapi dikelola dengan kemauan yang besar
Indonesia memang besar, tetapi dikelola dengan kemauan yang kerdil

Kenapa Malaysia-Indonesia yang menjadi fokus penulisan saya waktu itu? Jujur, karena ada ketersinggungan sejarah dengan lepasnya pulau sipadan-ligitan dahulu, belum lagi klaim sepihak Malaysia menyangkut kepemilikan blok Ambalat. Ditambah juga Malaysia sering mengklaim warisan budaya kita seperti batik, rendang, lagu dan lain-lain. Sayangngya Malaysia sampai sekarang tidak mau mengklaim teroris yang beraksi  dinegeri ini juga milik mereka, seperti dr. Azhari dan Noordin M. Top, yang notabene produk asli negeri jiran tersebut. 

Terlepas dari semua itu, bicara tentang Malaysia memang asyik, unik dan menarik. Asyik,  karena negara yang luasnya tak lebih luas dari pulau Kalimantan ini mengalami kemajuan pesat di berbagai bidang. Terutama dalam bidang ekonomi dan pendidikan. Dalam bidang ekonomi, diluar Singapura, Malaysia boleh bangga menepuk dadanya sebagai tuan bagi tanah Melayu. Hal itu cukup beralasan karena hampir sebagian besar tenaga kerja di Malaysia memang berasal dari tanah Melayu, lebih-lebih dari Indonesia. Padahal, katanya, sumber daya alam Indonesia melimpah luar biasa. Sayangnya sumber daya alam tersebut lebih banyak jatuh ke tangan asing. Kalaupun ada yang dikelola oleh anak bangsa sendiri, hasil perhitungannya selalu merugi. Sepertinya, Kata-kata ‘untung’ sudah hilang dalam peredaran kamus tata kelola perekonomian kita.

Rivalitas Lama
Persaingan antar dua negeri serumpun ini memang sudah berlangsung lama. Terhitung sejak Malaysia sukses mengelola harga dirinya  sebagai sebuah bangsa. Diawal kemerdekaannya, Pemerintah Malaysia banyak menimbah ilmu pada kita. Tak terhitung orang terpelajar di negeri ini yang berangkat ke negeri jiran untuk membangun pendidikan di sana. Akan tetapi sekarang semuanya serba jungkir balik, kata orang, hampir di semua sektor kita banyak tertinggal dari Malaysia. Semua orang bertanya-tanya, dimana sesungguhnya kelemahan kita sebagai suatu bangsa?

Survei UNDP
Dari  survei yang dilakukan oleh United Nations Development Program (UNDP) tahun 2011, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia ternyata memang hanya mampu bertengger di posisi 124 dari 187 negara dengan skor 0,617. Di ASEAN  kita hanya unggul sedikit dari Vietnam yang memiliki nilai IPM 0,593, Laos (IPM 0,524),  Kamboja (IPM 0,523) dan Myanmar dengan  IPM 0,483. Sementara peringkat IPM tertinggi diperoleh Singapura dengan nilai 0,866. Kemudian disusul Brunei Darussalam ( IPM 0,838),  lalu Malaysia (IPM 0,761), Thailand (IPM 0,682,) dan Filipina (IPM 0,644).

Dari survey UNDP tersebut, dapat dikatakan kita memang agak tertinggal jauh dengan malaysia terutama dari  taraf pendidikan, kesehatan, serta kemampuan daya beli masyarakat, sebagai tolok ukur penentuan peringkat IPM yang disyaratkan UNDP. 

Hasil survei diatas tak perlu membuat kita berkecil hati. Biarkan saja aspek Pendidikan kita dianggap lemah, asalkan bisa menghasilkan ilmuwan yang mumpuni dibidangnya masing-masing. Biarlah pelayanan dan peralatan kesehatan kita dianggap ketinggalan zaman, tidak seperti malaysia yang serba canggih, asalkan pelayanannya dapat menyentuh semua lapisan masyarakat dengan harga terjangkau. Biarlah kemampuan daya beli kita dipandang  rendah, asalkan tak ada lagi masyarakat yang terdeteksi mengalami busung lapar atau makan gadung.

Saatnya Berbenah
Terlepas dari jurus ‘biar dan asalkan diatas’, kesadaran dari komponen bangsa kita memang perlu digelorakan kembali. Terutama dari segi pengelolaan Sumber Daya Alam dan upaya peningkatan kualitas dunia pendidikan yang masih dianggap kurang maksimal.  Alokasi anggaran pendidikan kita memang sudah mencapai  20% dari APBN. sayang peruntukannya mayoritas habis untuk penyelenggaraan kegiatan. Bukan untuk menghasilkan pendidikan berkualitas. Mungkin dititik ini yang perlu dibenahi oleh para pemangku kebijakan. sebab, kunci kemajuan suatu bangsa justeru terletak dari kepiawaiannya dalam mengelola pendidikan. Yang lain hanyalah dampak dari keberhasilan tersebut.

beranjak dari sini,  mulai sekarang mulut Kita tak perlu berbusa-busa mengutuk Malaysia, hanya karena ekonomi dan pendidikan  mereka lebih maju dari kita. Pun tak perlu menyatakan perang sebagimana yang diinginkan oleh beberapa kalangan, yang hanya mendahulukan nasionalisme di kotak sempit. 

Kita juga jangan terlambat menyadari kalau Kita adalah bangsa yang besar, sumber daya alam dan manusia berlimpah ruah. Mutiara-mutiara terpendam masih berserakan di negeri ini. Tinggal kemauan kita saja untuk mengumpulkan mutiara-mutiara yang berserakan tersebut, mengelolahnya dengan tranparansi yang benar dan bertanggungjawab,  setelah itu melemparkannya di pasar bebas. Dunia akan menilai mutiara mana yang lebih berkualitas.
Salam Edukasi.

Pro Kontra Perubahan Kurikulum Nasional

Kalau tidak ada aral melintang, Insya Allah mulai tahun ajaran 2013 mendatang, dunia pendidikan kita disuguhi lagi perubahan kurikulum nasional di semua tingkatan. Dalam lintas sejarah pendidikan nasional, perubahan kurikulum ini untuk ke-10 kalinya sejak kurikulum pertama diterapkan tahun 1947.
Kebijakan Pemerintah
Menyangkut perubahan kurikulum yang digagas pemerintah tersebut, Dilihat dari substansinya, perubahan kali ini lebih Banyak ditekankan pada pengurangan (baca : Pemadatan) sejumlah mata pelajaran tertentu yang dianggap terlalu berat bagi anak. Atau mungkin juga solusi murah meriah dari pemerintah ditengah maraknya tawuran antar pelajar dan mahasiswa yang akhir-akhir ini seringkali memakan korban. Di mata Pemerintah, kurikulum yang berlaku sekarang, mungkin, dianggap gagal menanamkan sikap kebangsaan dan kesantunan pada peserta didik sehingga harus diubah dengan penekanan pada olah sikap dan olah kepribadian. Tak heran bila kemudian Pramuka dijadikan ekstrakurikuler wajib di sekolah (Kompas.com, Selasa, 13/11/2012)
Pendapat pemerintah lainnya yang menyatakan kurikulum sekarang sudah tidak bisa lagi mengikuti perkembangan zaman (ANTARA News, Kamis, 29 November 2012), porsinya sangat kecil dan terkesan agak ekstrim. Kenyataannnya, Justeru dengan kurikulum yang dianggap tidak relevan itulah siswa-siswa kita langganan juara diberbagai olimpiade pendidikan tingkat internasional. Belum lagi karya-karya inovatif anak bangsa seperti membuat robot, alat pendeteksi dini banjir, atau mobil tenaga surya, Misalnya, semuanya justeru produk dari kurikulum yang dianggap tidak relevan tersebut.
Banjir Cibiran
Tak heran jika kemudian rencana pemerintah untuk merombak kurikulum menuai cibiran dari berbagai pihak. Cibiran pertama, menganggap pemerintah sudah habis kerjaan, lebih suka mengotak-atik kurikulum dengan anggaran “Wah” daripada memikirkan kesejahteraan guru, terutama guru honorer yang gajinya masih banyak di bawah UMP/UMK dan malah kalah jauh dengan upah buruh di Jakarta atau Tangerang yang sudah diatas angka satu juta per bulannya.
Cibiran kedua yang agak bernuansa politis mengatakan pemerintah berusaha mengumpulkan modal untuk biaya pemilu 2014 dengan menciptakan program berbiaya tingkat tinggi sehingga anggarannya bisa disulap, sebagaimana terjadi pada kasus bank Century dan Hambalang. Cibiran terakhir ini tentu kurang kuat dan cenderung meluncur dari mulut orang yang kurang sehat sehingga tidak layak masuk ke otak kita, apalagi masuk ujian nasional!
Cibiran ketiga, menurut saya ini yang lebih menarik, mungkin nantinya datang dari dukun dan paranormal kelas teri. Kedua profesi ini menganggap pemerintah sudah mulai berani menggerogoti penghasilan tambahan mereka. Dengan berkurangnya beban belajar disekolah, otomatis akan berkurang juga jumlah siswa yang kesurupan menjelang ujian. Artinya berkurang juga panggilan dari sekolah-sekolah untuk memanfaatkan jasa mereka mengusir jin, hantu, dedemit dan roh halus lainnya!
Sebaliknya bagi dukun dan paranormal kelas kakap tentu saja menyambut baik rencana pemerintah tersebut. Bagi mereka, tingkat stress dan kesurupan tak hanya hanya di ukur dari banyaknya mata pelajaran, tapi juga waktu yang digunakan. Bukankah pemerintah berencana mengurangi jumlah mata pelajaran tapi menambah waktu belajar siswa selama 4 jam per minggu? Berada di sekolah 5 jam sehari saja banyak yang kesurupan apalagi ditambah menjadi 6 jam sehari!
Hilangnya Kearifan Lokal
Perubahan adalah keniscayaan. Termasuk kurikulum. Tak ada yang menolak perubahan selama mengarah pada kebaikan. Tetapi bila perubahan tersebut membuat hilang unsur-unsur baik yang sudah ada sebelumnya, maka perubahan tersebut patut dipertimbangkan. Salah satu contoh unsur-unsur baik yang akan hilang dengan berlakunya kurikulum baru adalah kearifan lokal. Jika dalam kurikulum sebelumnya sekolah mengembangkan kurikulum berdasarkan kondisi sekolah, sosial budaya masyarakat setempat dan potensi daerah masing-masing, maka di kurikulum yang baru sepertinya akan dipangkas. Sekolah tidak lagi menyusun kurikulum dengan konsisi dan potensi masing-masing. Semuanya sudah ditentukan oleh pusat. Sekolah sekedar robot dan hanya menjalankan tugas berdasarkan kontrol “tuannya”. Artinya, nilai-nilai otonomi sekolah, guru, dan daerah pada kurikulum sebelumnya (KTSP 2006) akan “dihilangkan” (Kompas.com, Senin, 17/12/2012)
Luruskan Niat
Berubah atau tidaknya kurikulum memang ditentukan oleh kebijakan penguasa.Arah kebijakan umumnya dilandasi oleh niat. Dititik inilah kebijakan yang dialirkan akan mencapai tujuannya. Apakah ia akan berakhir di kubangan lumpur, atau bermuara di Samudera kebajikan? Berpulang dari motif si pengambil kebijakan. Jika niatnya baik, mudah-mudahan uang negara yang keluar tidak sia-sia dan kurikulum yang akan diterapkan benar-benar mampu menciptakan insan-insan yang berkualitas dan ber-kredibelitas. Jika “bengkok”, maka uang negara akan mengalir di daerah “bengkok” tersebut. Isi Kurikulum pun akan kehilangan vitamin dan gizi, dan sepertinya sulit menempel di otak guru. Apalagi di otak anak. Kalau sudah begitu, mimpi indah tentang kurikulum baru takutnya hanya akan memperpanjang daftar “orang-orang pendosa” di negeri ini, karena tersandung korupsi pengadaan buku, misalnya. Lebih gawat lagi akan mencatatkan nama Indonesia di Guinnes Book of Record sebagai negara yang paling sering mengganti kurikulum sekaligus negara yang paling sering gagal menjalankan kurikulum!
Salam Edukasi!

Belajar Mengajar Dengan Nge-Blog


Oleh : Jon Erwin SKB

Mereka yang berselancar melalui internet umumnya sudah mengenal apa itu blog dan website  berikut fungsinya. Naman tak banyak yang tahu fungsi dan perbedaannya. Secara umum fungsi blog atau website itu sama. Perbedaannya Cuma terletak dari proses pembuatannya. Membuat website lebih rumit dari blog, karena seseorang setidaknya harus menguasai bahasa pemogramam seperti HTML, PHP, Java Script, XML, dll. Dan juga harus menggunakan FTP (File Transfer Protocol) untuk memasukan file-file ke dalam website tersebut.
Lain halnya dengan blog. Membuat blog cukup mudah. Yang sulit itu merangsang kreatifitas pemilik blog untuk menghiasi tampilan blognya. Apalagi bila pemilik blog sama sekali tidak mengenal bahasa HTML. Dapat dipastika blog yang di buat nantinya terlihat hambar dan jarang di akses pengunjung.  Padahal bahasa pemprograman inilah  yang akan membuat blog/website seseorang menjadi cantik dan manis.
Guru Nge-blog
Guru nge-blog bukan suatu kewajiban. Tetapi bila tak punya blog dan malas untuk nge-blog berarti perlu dipertanyakan, kalau tidak mau disebut keterlaluan. Kenapa? sebab, dari segi penggunaan, Dari blog-lah umumnya seorang guru mengambil dan mengumpulkan berbagai jenis perangkat pembelajaran terbaru mulai dari silabus, prota, prosem dan perangkat administrasi lainnya. Dari nge-blog kita dapat mengunduh semua hal khususnya yang berbau pendidikan. Selain itu, blog dapat dimanfaatkan sesama komunitas guru untuk berbagi ilmu, pendapat dan gagasan. Apalagi kepemilikan website atau blog saat ini merupakan salah satu unsur  yang diminta kemendikbud dalam mengisi data pokok  sekolah. Bila dalam suatu komunitas sekolah tidak ada guru yang suka atau tahu dengan yang namanya blog, apapun nama labelnya, dapat dipastikan ada yang “kurang”  pada sekolah tersebut. Yang pasti data sekolahnya kurang lengkap. Hehehe...
Pola Pikir Manual
Sayangnya, poloa pikir komunitas guru kebanyakan masih bersifat manual. Mereka terkesan menganggap remeh multi manfaat dari sebuah blog. Akibatnya guru terkesan gaptek. Padahal, Dengan memiliki blog, seorang guru akan terlibat aktif berinteraksi di dunia maya secara bebas dan bertanggungjawab. Guru bisa menuangkan gagasan inteleknya, memacu kreatifitas dan inovasi diri.  Guru juga bisa melatih kemampuan dasar menulis dan  dapat mengakses informasi pendidikan terkini.  Lambat laun, dengan menuangkan gagasan dan membandingkannya dengan gagasan orang lain,  guru akan menyadari bahwa ilmu mereka belum seberapa dibanding perkembangan ilmu pengetahuan yang melaju pesat akhir-akhir ini.
Intinya, blog atau website dapat dimanfaatkan bagi guru untuk belajar mengajar. Jangan  pernah beranggapan  mampu mengajar hanya karena sudah menjadi guru selama puluhan tahun.  Jangan juga berpikir mentang-mentang masa pengabdian atau usia sudah mendekati Maghrib alias hampir memasuki masa pensiun “di dunia dan akhirat”, seorang guru malas mengoperasikan komputer atau laptop, sebagai syarat pertama untuk nge-blog yang saya tulis di sini. Kita selalu memotivasi siswa untuk maju, tapi kita juga cenderung mengabaikan kemajuan itu sendiri. Hal seperti ini tak jauh beda dengan orang tersesat yang meminta bantuan orang buta sebagai penunjuk arah!
Membangkitkan kesadaran ilmiah
Di zaman yang serba IT Sekarang, Guru mestinya menyadari,  Pola pikir siswa saat ini berubah. Mereka cenderung menaruh hormat pada guru yang supel, kreatif, inovatif dan canggih.  Guru yang masih berpola pikir manual lambat laun akan tertinggal oleh zaman. Para siswa yang masih “bertenaga” tentu lebih menyukai guru yang  tergolong “Canggih” Dimata mereka, mungkin, guru seperti inilah yang patut ditiru, yang mampu membangkitkan kesadaran berpikir. Lalu apa hubungannya dengan blog? Blog adalah wadah bagi guru untuk menuangkan gagasan melalui tulisan. Kemampuan seseorang justeru bisa dilihat dari isi tulisannya. Sayangnya, hampir kebanyakan kita menulis hanya menjelang wisuda S1 atau S2 saja. Itupun materinya copypaste dari website atau blog tertentu. Lagi-lagi kita hanya mengambil, bukan memberi.
Dengan rajin nge-blog, menulis opini atau artikel di media massa, mudah-mudahan pola pikir kita berubah.
Salam Edukasi!

BLOGGERPEDIA : Baca Kumpulan Tulisanku Di Kompasiana

Kategori Headlines

Trending Articles

Aktual

Inspiratif

Bermanfaat

Menarik

Highligt Atau Bacaan Terpilih

FREEZ : Kompas Cetak

Tidak Masuk Kategori

DOWNLOAD BUKU PAKET KURIKULUM 2013

DOWNLOAD KISI-KISI PLPG TAHUN 2013

CHANNEL 5

CHANNEL 4

CHANNEL 3

Silahkan Pelajari Arsip Flash Di Bawah Ini Yang Kami Rangkum Dari Berbagai Sumber ~ Erwin Alwazir
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Blog Belajar Mengajar - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger